Metode Socrates Dalam Bimbingan Kelompok

Metode Socrates Dalam Bimbingan Kelompok

Metode sokratik (didactic experiental) merupakan pendekatan yang mengacu pada prinsipexperiental learning, dimana proses yang dilakukan bermaksud untuk mendapatkan makna dari pengalaman langsung yang dialami oleh individu. Aristoteles (wikipedia.org) mengatakan "For the things we have to learn before we can do them, we learn by doing them”, dapat dipahami dari pernyataan tersebut bahwa untuk memperoleh suatu kemampuan atau keterampilan dengan melakukan proses pembelajaran dengan cara melakukan secara langsung.

Pendekatan didactic experiental menekankan pelibatan langsung individu dalam berbagai kondisi selama proses bimbingan, dengan memperhatikan berbagai macam kebutuhan individu yang terlibat di dalamnya. Pendekatan didactic experiental akan berhasil atau efektif jika dilakukan secara menyeluruh, dari penetapan tujuan, observasi dan ekperimentasi, review, dan pada akhirnya menetapkan rencana tindakan. Keseluruhan proses ini jika dilakukan secara menyeluruh dan benar bisa membantu individu mempelajari dan memperoleh keterampilan, sikap, atau bahkan cara berfikir yang baru (wikipedia.org.2010).

David Kolb (Brooks-Harris, 1997) menyatakan bahwa “ a model of experiential learning that describes a cycle of learning which includes concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization, and active experimentation”. Bahwa pendekatan eksperiental digambarkan seperti lingkaran pembelajaran yang terdiri dari pengalaman nyata, pengamatan secara reflektif, konseptualisasi secara abstrak, dan pelaksanaan secara aktif, dengan demikian metode ini bisa digunakan untuk mengembangkan berbagai kompetensi yang dirumuskan dalam kurikulum bimbingan, karena pendekatan ini berorientasi pada munculnya pemahaman, keterampilan dan paradigma baru dalam pribadi para peserta didik.

Selain itu, pendekatan didaktik eksperiental, dipandang cukup praktis, karena dalam satu setting kegiatan, tidak hanya satu kompetensi yang bisa dikembangkan, sebagai contoh, ketika para peserta didik melakukan proses simulasi dengan permainan tradisional (misal: bebentengan), para peserta didik secara langsung mengembangkan kemampuan bekerja sama, komunikasi, pengambilan keputusan dan strategi, koordinasi, menerima kekalahan dan merasakan kemenangan.

Dari keterampilan-keterampilan tersebut bisa dilihat beberapa domain perkembangan (sosial,emosioanal, dan intelektual) bisa dikembangkan bersamaan. Akan tetapi hal tersebut bisa dimaknai jika konselor mampu mendorong peserta didik merefleksikan semua kegiatan dan menjadikan pengalaman bermakna dalam diri peserta didik.

Satu hal lagi yang dapat menjadikan pendekatan didaktif eksperiental efektif dalam pelaksanaan kurikulum bimbingan adalah nuansa dalam pendekatan ini bersifat “FUN”, karena dengan mengalami secara langsung peserta didik lebih bisa merasakan kesenangan, sehingga konsentrasi dalam proses tetap terjaga, dan hal ini membantu dalam pencapaian target kurikulum bimbingan, yaitu diperolehnya keterampilan-keterampilan yang menunjang kesuksesan peserta didik dalam belajar dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Aspek-Aspek Metode Sokratik

Brooks-Harris (1997) mengemukan aspek-aspek dalam pendekatan didaktik eksperiental yang merujuk pada teori yang dikembangkan oleh David Kolb, adapun aspek-aspek tersebut adalah : Reflecting on Experience, Assimilating and Conceptualizing, Experimenting and Practicing, Planning for Application. Aspek pertama refleksi terhadap pengalaman, maksudnya adalah sebelum melakukan aktivitas yang baru, peserta didik merefleksikan aktivitas dan pengalaman yang pernah mereka alami yang terkait dengan aktivitas yang akan dilakukan. Hal ini dapat meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik dalam melakukan proses. Yalom (Brook-Harris, 1997) menyatakan bahwa “ Reflecting on experience is expected to result in recognition of universality and instillation of hope”.

Aspek kedua adalah asimilasi dan konseptualisasi, proses ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan informasi baru mengenai teori atau konsep yang dapat mendorong peserta didik menerapkan pengetahuannya dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari. Tahap kedua ini dapat menjembatani antara pemahan konsep dan teori dengan pengalaman dan praktek.

Aspek ketiga yaitu praktek dan eksperimentasi, dalam tahap ini peserta didik dimungkinkan untuk memperoleh perilaku baru melalui proses eksperimentasi, selain itu tahap ini juga bisa menjembatani pemahaman yang masih bersifat konsep dan ide yang abstrak menjadi bentuk perilaku yang spesifik.
Aspek keempat yaitu perencanaan tindakan, aspek ini merupakan proses identifikasi relevansi personal yang dapat mendorong peserta didik mempersiapkan diri dalam transisi dari proses pembelajaran menuju pada kehidupan nyata. Proses ini menjebatani pengalaman nyata dalam proses pembelajaran (bimbingan) menuju pada pelaksanaan di dalam kehidupan nyata.

Model yang dikembangkan oleh Brook-Harris (1997) sejalan dengan paparan Nandang Rusmana (2009:162-163) yang menjabarkan skema pengorganisasian konseling kelompok dalam setting metode sokratik yang terdiri dari: eksperientasi, identifikasi, analisis, dan generalisasi.

Tahap pertama eksperientasi merupakan tahap pelaksanaan dimana konselor melibatkan konseli dalam pelaksanaan konseling, proses ini diarahkan untuk memfasilitasi konseli mengekspresikan perasaan-perasaan sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan sebelumnya. Tahap kedua identifikasi merupakan tahap dimana konselor melakukan identifikasi dan refleski atas pengalaman konseli yang dilakukan pada tahap eksperimentasi.

Pada tahap ini, konseli diajak untuk “bercermin” dan melihat lebih dalam mengenai apa yang sudah dilakukan dalam tahap sebelumnya untuk melihat hubungan antara proses yang dilakukan dengan keadaan dirinya, konseli diminta untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan yang terkait dengan proses eksperientasi. Tahap ketiga analisis, dalam tahap ini konseli diajak untuk merefleksikan dan memikirkan hubungan antara proses yang sudah dilakukan dengan keadaan dirinya, dari proses berfikir reflektif ini, konseli diharapkan memperoleh gambaran mengenai apa yang akan dilakukan dalam proses perbaikan diri. Tahap keempat generalisasi, yaitu tahap dimana konseli diajak untuk merencakan tindakan untuk proses perbaikan terhadap kelemahan yang dimiliki oleh konseli.


Keunggulan Model Sokratik dan Model Konvensional dalam Pelakasanaan bimbingan kelompok

Beberapa model satuan layanan kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yang ada masih belum jelas kerangka dan tujuan konseling kelompok yang akan dikembangkan. Kejelasan tujuan, metode, indikator keberhasilan mungkin sudah muncul dalam rangkaian satuan layanan, namun yang masih lemah adalah dalam hal evaluasi dan refleksi, padahal tahap inilah yang diharapkan menjadi entry point, bagi konselor untuk mendorong konseli mengembangkan berbagai alternatif dalam penyelesaian permasalahan dan pengembangan diri konseli.

Saya setuju dengan model satuan layanan kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yang merujuk pada metode sokratik dengan alasan sebagai berikut:
a. BK kelompok berbasis metode sokratik bersifat menyeluruh, artinya aktivitas konseling kelompok yang dirancang melibatkan seluruh aspek perkembangan (kognitif,afektif,konatif, psikomotorik).
b. BK kelompok berbasis metode sokratik memungkinkan konseli mengeksplorasi lebih dalam tentang diri dan permasalahan yang dihadapi, karena aktivitas yang dilakukan dalam setiap tahapannya memiliki target yang jelas.

Bahasan mengenao metode socrates panjang sekali, kalau ditulis dalam artikel ini tak kunjung sekali. Untuk itu admin sediakan link download artikel dialog socrates melalui link berikut ini

Download Metode Socrates Dalam Bimbingan Kelompok

0 Response to "Metode Socrates Dalam Bimbingan Kelompok"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel