Pengertian Teknik Observasi Dalam Bimbingan dan Konseling

Teknik Observasi

Teknik observasi adalah salah satu teknik merekam data tingkah laku individu melalui proses pengamatan oleh orang lain baik langsung dan/ atau tidak langsung dalam suatu kegiatan untuk memperoleh gambaran observable behavior.

Observasi lazim dikenal dengan proses pengamatan yang senantiasa melibatkan indera mata, telinga dan indera rasa dengan memperhatikan setting (tempat) tertentu, obyek tertentu, serta waktu tertentu.

Manfaat Observasi

Observasi atau pengamatan bermanfaat untuk memahami diri konseli serta berguna bagi penyusunan program bimbingan dan konseling. Adapun manfaat observasi untuk pemahaman individu/konseli, dengan rincian:
  • Diperoleh data perilaku spontan secara natural
  • Diketahui intensitas perilaku secara detail, dan
  • Diketahui penyebab munculnya perilaku. 
Di samping bermanfaat bagi pemahaman diri individu, maka hasil observasi dapat digunakan sebagai tolok ukur menyusun program bimbingan dan konseling komprehensif, lazim dinamakan need assessment.

Mengembangkan Keterampilan Mengobservasi

Sebagai ahli dalam layanan bimbingan dan konseling, konselor perlu memiliki keterampilan mengobservasi. Selama mengobservasi seorang observer, konseor perlu memahami dan terampil memilah-milah perilaku tampak (observable behavior) dan perilaku tidak tampak (unobservable behavior).

Perlu pula ditanamkan bahwa perilaku yang tampak identik dengan kata-kata aktif dan menggambarkan aktivitas contoh: menulis, membaca, berjalan, dll. Upaya mengembangkan keterampilan mengobservasi, maka terlebih dahulu observer menemukan dan memilah istilah-istilah pada kategori observable behavior dan unobservable behavior untuk setiap bidang bimbingan (belajar, pribadi, sosial, dan karir).

Alasan-alasan Keterampilan Mengobservasi Dipelajari

Sepanjang hayat dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan alat-alat dari kita sendiri, akan tetapi hanya sebagian kecil di antaranya menghasilkan observasi yang bagaimana perlu dilakukan oleh guru dan konselor di kelas.

Berfungsinya mata kita, atau telinga kita, di dalam menyerap rangsangan visual dan audio, tidaklah sama dengan berfungsinya kamera atau mikrofon pada tape recorder. Seorang penulis membedakan di antara keduanya dengan menamakan penyerapan rangsangan sebagaimana terjadi pada kamera dan tape recorder perception yang sedang terjadi pada manusia pada umumnya, yaitu yang telah mencampurkan kesan rangsangan dengan "isi jiwa" sebagai anschauung.

Dengan ungkapan yang sederhana, dapat dikatakan bahwa dengan obsevasi dalam arti anschauung itu, kita melihat atau mendengar, apa yang kita mau lihat atau dengar. Tentu saja tidak dimaksudkan di sini untuk mengatakan bahwa keadaan seperti ini diri kita salah.

Di satu pihak, pengamatan kita selalu memperoleh makna berdasarkan kerangka acuan serta khasanah pengetahuan yang kita miliki, sebagaimana seorang guru dan seorang ahli kimia akan memperoleh informasi yang sangat berbeda apabila keduanya diminta mengamati proses belajar mengajar IPA di SMA, misalnya.

Akan tetapi di pihak lain sudut pandangan serta khasanah, pengetahuan yang dimaksud tentu tidak boleh sedemikian, sehingga telah berubah menjadi bisa. Sebuah ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita melihat sesuatu yang tidak ada. Perhatikan contoh berikut: bila diminta menetapkan, mana yang lebih panjang garis a atau b orang biasanya menunjuk kepada garis a padahal sebenarnya kedua garis tersebut sama panjang.

Penyebab Pengamatan Mengalami Distorsi

  • Biasanya kita melihat apa yang kita ingin melihatnya, sedangkan pengetahuan serta pengalaman yang telah kita miliki juga ikut mewarnai hasil observasi kita.  Di dalam setting kelas, guru biasanya "tidak melihat" kesalahan serta kekurangan  yang ada pada siswa-siswa yang (biasanya) pintar, akan tetapi sebaliknya tidak pernah luput di dalam menangkap kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh siswa-siswa yang (biasanya bodoh).  Penelitian telah menunjukkan bahwa  siswa-siswa yang oleh peneliti "dinyatakan" pintar cenderung juga dilihat sebagai pintar oleh gurunya, sedangkan yang "dinyatakan" lambat, juga dilihat demikian.  Ada yang lebih mengherankan siswa-siswa tersebut memang kemudian menunjukkan prestasinya sesuai dengan "merek" yang diberikan kepada mereka dalam hal ini (oleh guru/ peneliti).  Gejala inilah yang dinamakan pygmalon effect di dalam ponelitian pendidikan
  • Satu karakteristik dari seseorang seringkali diperlakukan seolah-olah merupakan kualitasnya secara menyeluruh. Seorang siswa yang pakaiannya jelek seringkali juga dijatuhi penilaian negatif lainnya, seperti: pengotor, jorok, pemalas, nakal bahkan bodoh, dan sebaliknya inilah yang dinamakan hallo effect
  • Gejala yang dinamakan proyeksi juga dapat mengacaukan hasil observasi: kita membayangkan orang lain, juga akan mereaksi seperti kita, kalau menghadapi situasi yang sama
  • Di dalam melaksanakan observasi, observer harus sejauh mungkin menghindarkan faktor-faktor subyektif yang dapat menyebabkan distorsi seperti tersebut di atas.

Peningkatan Obyektivitas, Kecermatan dan Efektivitas observasi

Bila seorang guru telah memutuskan untuk mengobservasi kelasnya atau kelas koleganya maka ada panduan umum yang dapat dipergunakannya, sehingga pelaksanaan observasi menjadi lebih dapat dipercaya hasilnya.
  • Tetapkan tujuan observasi yang berarti kita harus mcmbatasi apa yang akan di observisi dan mengapa observasi yang dimaksud itu dilakukan.  Kelas yang tengah melakukan kegiatan merupakan setting yang sangat kompleks: tingkah laku perorangan para siswa, penggunaan alat-alat pelajaran, interaksi verbal dan non verbal antara guru- murid dan murid-murid, teknik bertanya yang digunakan guru, dan sebagainya. Janganlah mencoba mengobservasi segala-galanya sekaligus tapi pusatkan perhatian pada suatu aspek yang jelas.  Juga penting ditegaskan mengapa (observasi itu dilakukan: apakah ingin mempelajari teknik-teknik mengajar dari seorang kolega? mengungkapkan informasi balikan bagi kolega yang bersangkutan? ingin lebih memahami siswa-siswa tertentu supaya bisa memenuhi kebutuhannya secara lebih baik? dan seterusnya
  • Tetapkan bagaimana observasi dilakukan.  Dalam hubungan ini dipertimbangkan akan digunakan atau tidak akan digunakannya alat-alat bantu observasi
  • Alat bantu observasi dapat memberikan dua macam manfaat, yaitu (i) meningkatkan kemampuan observasi dalam arti observasi dapat dibuat lebih cermat dan/atau sistematis, dan (ii) membantu merekam hasil observasi
  • Observasi dibuat lebih sistematis, bila sasaran obeservasi ditetapkan batas-batasnya dan diperinci komponen-komponennya misalnya dengan pedoman observasi. Observasi dibuat lebih cermat dan hasil observasi juga dikuantifikasikan dalam arti dinyatakan dalam bentuk angka-angka, pelbagai sistem penskoran dapat disusun untuk mengkuantifikasikan hasil observasi
  • Terlepas dari semua usaha untuk meningkatkan kualitas hasil observer tetap memegang peranan sangat penting. Latihan-latihan yang memadai sangat penting, sehingga observasi menghasilkan anchauung  dan bukannya- wishfull- thinking, memang tidak boleh dilupakan, meskipun untuk wilayah pembelajaran persyaratan yang dituntut dalam hal ini tentu tidak perlu seketat untuk wilayah penelitian. Bila dua atau lebih observer ditugasi mengamati suatu gejala, misalnya kegiatan belajar-mengajar selama satu jam, maka observer kemungkinan tidak terdapat kesepakatan penuh di antara mereka yaitu dari sudut pandang penginterpretasian yang berbeda, preferensi perorangan, prasangka, dan sebagainya cenderung memainkan peranan cukup besar. Oleh karena itu akan sangat besar manfaatnya di dalam peningkatan keterampilan mengobservasi, jika kita berlatih berpasang-pasangan sehingga dapat dilakukan debriefing dan diskusi sebagai bagian penting daripada latihan ini.  Bila kita telah semakin mahir di dalam melakukan observasi maka derajat kesepakatan kita di dalam mengobservasi gejala yang sama akan cenderung meningkat. Gejala inilah yang di dalam literatur dibicarakan sebagai interrater agreemen dan interrater reliability
  • Terutama pada tahap-tahap permulaan, melakukan latihan besar sekali manfaatnya, kita dapat membedakan antara perekaman observasi dan penyataan interpretasi.

Jenis Instrumen Observasi

Teknik observasi perlu dilengkapi dengan instrumen observasi seperti: Daftar Cek (Checklist), Skala Penilaian (Rating Scale), Catatan Anekdot (Anecdotal Records), Tally, dan alat-alat mekanik (mechanical devices). Berikut dipaparkan instrumen observasi yang dapat dipilih untuk kepentingan asesmen dan pemahaman individu.

Download Modul Teknik Observasi

0 Response to "Pengertian Teknik Observasi Dalam Bimbingan dan Konseling"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel