Teknik Permainan Peranan (Roleplaying) Dalam Bimbingan Kelompok

Teknik Permainan Peranan (Roleplaying)

Istilah permainan peranan terdiri dari dua kata, yaitu permainan dan peranan.Hal ini mengandung makna ada permaian dan peranan. Permainan merupakan  aktivitas yang menyenangkan, biasanya dimaksudkan untuk mendapat hiburan. Sedang  peranan, yaitu melakonkan perilaku tertentu di mana perilaku tersebut bukan manifestasi dari  perilaku dirinya sendiri tetapi merefleksikan perilaku orang lain, dalam hal ini adalah   tokoh yang telah ditentukan dalam permainan.

Dalam konteks bimbingan atau pendidikan secara umum permainan peranan  dipandang  sebagai suatu aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan, di mana individu memerankan suatu situasi yang  imajinatif (pura-pura), bertujuan untuk membantu individu dalam mencapai pemahaman diri, meningkatkan keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain. Permainan peranan merupakan alat belajar yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan dan pengertian mengenai hubungan antar manusia, dengan cara memerankan situasi yang pararel (sama) yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya (Shaw, E.M dkk, 1980; Corsisi, 1966 dalam Romlah, 2006).

Permainan peranan dapat dibedakan menjadi dua yaitu sosiodrama dan psikodrama.Sosiodrama lebih mengarah pada permainan peranan yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan hubungan sosial, lebih bersifat preventif dan pengembangan.Sedang psikodrama digunakan untuk memecahkan masalah emosional yang dialami oleh seseorang, bersifat kuratif atau penyembuhan. Dalam konteks bimbingan yang  berfungsi preventif dan pengembangan, lebih cenderung menggunakan teknik sosiodrama, sehingga dalam tulisan ini juga hanya membahas sosiodrama.

Sosiodrama sebagai suatu teknik dalam bimbingan dapat dikatakan sebagai alat  yang digunakan dalam memberikan layanan kepada konseli, dengan cara mengajak mereka memerankan peran-peran tertentu yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Topik yang diangkat dalam sosiodrama merupakan kejadian sehari-hari yang akrab dengan konseli, terkait dengan situasi hubungan sosial mereka.Teknik ini dapat digunakan ketika konselor memiliki tujuan untuk mendidik atau mendidik kembali aspek sikap ataupun perilaku sosial konseli.

Dapat dikatakan bahwa teknik sosiodrama lebih tepat digunakan untuk mencapai tujuan yang mengarah pada aspek afektif motorik dibandingkan pada aspek kognitif, terkait dengan kehidupan hubungan sosial.Sehubungan dengan itu maka materi yang disampaikan melalui teknik sosiodrama bukan materi yang bersifat konsep- konsep yang harus dimengerti dan dipahami, tetapi berupa fakta, nilai, mungkin juga konflik-konflik yang terjadi di lingkungan kehidupannya. Melalui permainan sosiodrama, konseli diajak untuk mengenali, merasakan suatu situasi tertentu sehingga mereka dapat menemukan sikap dan tindakan yang tepat seandainya menghadapi situasi yang sama. Diharapkan akhirnya mereka memiliki sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam mengadakan penyesuaian sosial.

Prosedur Pelaksanaan Layanan dengan Teknik Sosiodrama

Sebagai suatu teknik selalu mengikuti  prosedur sistimatis dalam penyelenggaraannya, seperti teknik yang lain. Adapun prosedur yang harus diikuti konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan dengan teknik sosiodrama adalah sebagai berikut:

Perencanaan
Pada tahap ini konselor merencanakan layanan bimbingan yang akan dilaksanakan dengan menggunakan teknik sosiodrama. Konselor hendaknya melihat ulang apakah kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapai sudah sesuai dengan karakteristik dari teknik sosiodrama.

Kegiatan yang dilakukan konselor pada tahap perencanaan ini yaitu:
  • Identifikasi kebutuhan konseli: sikap, keterampilan apa yang perlu dipelajari konseli dalam berinteraksi dengan orang lain dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari
  • Merumuskan tujuan layanan sesuai dengan kebutuhan konseli
  • Identifikasi materi berdasarkan kebutuhan dan tujuan, materi ini yang akan dikembangkan ke dalam skenario permainan peranan. Berdasarkan materi tersebut dirumuskan topik layanan bimbingan  dan judul sosiodrama
  • Mengembangkan skenario sosiodrama
  • Merencanakan strategi pelaksanaan dan
  • Merencanakan evaluasi.

Pelaksanaan
Pada tahap ini  konselor melaksanakan layanan bimbingan dengan mengajak konseli bermain sosiodrama.

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan ini yaitu:
  • Pembukaan, dimulai dengan pembinaan hubungan baik, pemberian motivasi dan penjelasan tujuan serta kegiatan yang akan dilaksanakan
  • Tahap peralihan,konselor  menyampaikan informasi  bahwa dalam permainan sosiodrama akan melibatkan sebagaian konseli sebagai kelompok pemain dan konseli yang lain menjadi kelompok  observer, kelompok pemain maupun kelompok observer sama-sama mengikuti aktivitas belajar melalui permainan yang dilaksanakan
  • Tahap kegiatan inti atau produktivitas meliputi: (a) konselor membacakan garis besar cerita sosiodrama (telah disiapkan di dalam skenario) diteruskan dengan pembacaan rambu-rambu pemain dari setiap pemegang peran, (b) setelah dipahami oleh semua konseli maka langkah berikutnya menentukan kelompok pemain. Kelompok ini terdiri dari individu-individu yang memerankan peran-peran tertentu sesuai dengan tuntutan skenario. Penentuan pemain ini bisa melalui penawaran kepada konseli (siapa yang bersedia memerankan suatu peran), dibicarakan di dalam kelompok maupun ditunjuk oleh konselor, (c) penjelasan dan pengarahan terhadap kelompok pemain. Para pemain yang telah terpilih kemudian diberi penjelasan tentang proses permainan adegandemi adegan seperti dalam skenario. Kelompok pemain diberi waktu sejenak untuk mempelajari skenario, (d) kelompok observer/ penonton juga diberi pengarahan terkait peran mereka sebagai observer. Observer bertugas untuk mengamati proses permainan, bagaimana para pemain memerankan adegan-adegan dalam permainan, dialog-dialog para pemain, pemecahan masalah yang dilakukan oleh pemain dan sebagainya, (e) pelaksanaan permainan, adegan demi adegan dalam skenario dimainkan oleh para pemegang peran. Pada saat ini maka konselor berperan sebagai pengarah permainan (sutradara) dan sekaligus sebagai pengamat proses baik terhadap kelompok pemain maupun kelompok observer, (f) setelah semua adegan selesai dimainkan maka langkah berikutnya adalah diskusi. Aspek yang didiskusikan terkait dengan substansi materi yang disampaikan melalui permainan sosiodrama, proses permainan hingga pada perasaan para pemain maupun penonton ketika berlangsungnya permainan.
  • Penutup, pada tahap ini konselor menyimpulkan hasil pelayanan bimbingan yang dilaksanakan melalui permainan sosiodrama, aspek apa saja yang dapat dipelajari melalui sosiodrama yang baru saja dilaksanakan diberi penekanan sebagai upaya untuk mengikat perolehan belajar para konseli dan dilanjutkan dengan evaluasi.
  • Evaluasi, prosedur terakhir setiap pelayanan selalu diakhiri dengan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.

Pengembangan Skenario Sosiodrama

Di dalam menggunakan teknik sosiodrama maka konselor diharuskan mengembangkan skenario sosiodrama. Komponen di dalam skenario sosiodrama meliputi:
  • Judul Sosiodrama, rumusan judul hendaknya dibuat semenarik mungkin menggambarkan cerita yang akan diangkat sekaligus juga mencerminkan topik bimbingan yang disampaikan
  • Garis besar cerita, berisi cerita singkat yang menggambarkan peristiwa-peristiwa atau kejadian yang akan disampaikan dalam permainan sosiodrama. Di dalam garis besar cerita hendaknya telah ditampakkan secara jelas para tokoh yang terlibat dalam suatu peristiwa dengan karakteristiknya, konteks terjadinya peristiwa apakah di sekolah,  di rumah dan sebagainya. Konflik atau masalah yang muncul dalam peristiwa tersebut hingga bagaimana pemecahan yang diambil oleh pemain dalam mengatasi masalahnya. Alur cerita dimulai dari eksposisi atau paparan peristiwa awal, muncul konflik,komplikasi (konflik menjadi semaakin kompleks) terus berkembang hingga ke klimaks dan  hingga mencapai anti klimaks dalam bentuk solusi atau pemecahan masalah
  • Rambu-rambu pemain, setiap tokoh yang diperankan dalam permainan sosiodrama didiskripsikan karakteristiknya. Berdasarkan rambu-rambu ini para pemain memerankan tokoh-tokoh dalam cerita dimaksud
  • Rincian adegan, berisi deskripsi konteks dan gambaran peristiwa  yang harus dimainkan oleh para pemain pada setiap adegan. Di dalam skenario sosiodrama tidak dibuatkan verbatim dialog dari para pemegang perannya. Mereka berdialog secara spontan dan bebas mengekspresikan dirinya.

Kelebihan dan kelemahan Teknik Sosiodrama

Kelebihan Sosiodrama 

  • Merupakan teknik yang menyenangkan sehingga tidak membosankan, sebab konseli diajak untuk bermain-main
  • Konseli dapat belajar melalui penghayatan secara langsung dari suatu peristiwa, meskipun peristiwa yang diangkat hanya imajinatif
  • Melalui sosiodrama dapat disajikan model peristiwa ataupun model perilaku, sehingga konseli dapat belajar melalui model yang disajikan
  • Dapat digunakan sebagai alat mendiagnosis perilaku konseli.

Kelemahan Sosiodrama

  • Dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang lebih lama
  • Menuntut kecermatan dalam mengobservasi para konseli baik pada kelompok pemain maupun penonton agar dapat menangkap secara cermat setiap perilaku atau peristiwa yang terjadi dalam proses permainan
  • Menuntut keterampilan yang lebih dari konselor dalam mengelola kelas sebab kelas terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pemain dan kelompok observer yang sama-sama menuntut perhatian sepanjang proses permainan. Untuk mengatasi kelemahan ini, konselor dapat menggunakan system co-leader, konselor dapat bekerjasama dengan kolega konselor yang lain untuk membantu pelaksanaan permainan sosiodrama.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Teknik Permainan Peranan (Roleplaying) Dalam Bimbingan Kelompok"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel