Jenis-Jenis Media Bimbingan dan Konseling

Jenis-Jenis Media Bimbingan dan Konseling

Jenis  media dalam program BK dapat diklasifikasi berdasar cara penyajian maupun fungsinya. Berdasarkan cara penyajiannya media dalam program BK terdiri atas (1) media grafis/ media visual, (2) media audio, (3) media audiovisual, (4) media proyeksi, (5) multimedia, (6) media obyek.

Media grafis atau lazim disebut media visual merupakan media untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan-pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual.

Simbol-simbol tersebut perlu dipahami dengan betul artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien. Selain fungsi umum itu, secara khusus media grafis berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan jika tidak digrafiskan. Termasuk dalam kelompok media ini ialah: gambar atau foto, sketsa, diagram, bagan/ chart, grafik, kartun, poster, peta/ globe, papan flannel.

Media audio, merupakan media yang pesannya ditangkap oleh indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif. Termasuk dalam kelompok media ini ialah: radio, tape recorder.

Media audiovisual, merupakan media yang pesannya ditangkap oleh indera mata dan pendengaran. Dalam media ini secara bersama lambang-lambang pesan dinikmati oleh kedua indera tersebut. Termasuk dalam kelompok media ini ialah TV, video, DVD player.

Media proyeksi, merupakan media yang teknis menyajiannya memerlukan alat proyektor. Termasuk dalam kelompok media ini ialah OHP, film slide, opaque projector (proyektor tak tembus pandang), film.

Multimedia, merupakan media yang memadukan semua keunggulan peralatan media audio dan visual dengan berbagai teknik penyajian yang memanfaatkan teknologi computer dan LCD proyektor sebagai peralatan utamanya. Dengan multimedia guru BK dapat langsung mengetik hasil diskusi dan menampilkan dalam waktu bersamaan di layar.

Multimedia juga memungkinkan dilakukan animasi, pemotongan sebagian dari gambar obyek untuk diperbesar yang dijadikan bahan pembahasan. Media obyek merupakan media yang menyampaikan informasi melalui ciri fisiknya itu sendiri.

Media obyek terdiri atas obyek alami yakni benda itu sendiri, seperti obyek kelinci (siswa menghadapi kelinci betulan). Sedangkan media obyek yang lain ialah obyek tiruan, seperti replika, maneken (siswa menghadapi obyek tiruan, bukan benda sebenarnya).

Jenis media yang digunakan dalam program BK di sekolah ditinjau dari fungsinya diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Media sebagai perantara penyampaian informasi, (2) Media sebagai asesmen (pengumpul dan penyimpan data), (3) Media sebagai alat bantu dalam memberikan group information (informasi secara kelompok), (4) Media sebagai biblioterapi/ bibliokonseling, dan (5) Media sebagai alat menyampaikan laporan. Berikut dipaparkan jenis-jenis media sebagaimana di sebutkan.

1. Media Untuk Menyampaikan Informasi

Dalam memberikan layananan informasi, baik kepada siswa, orangtua, maupun masyarakat.  Dalam upaya memperjelas isi informasi serta memudahkan penangkapan makna bagi audiens, maka diperlukan seperangkat media. Media itu bisa berupa selebaran, leaflet, booklet, bahan cetak, grafis, gambar, poster, dan papan bimbingan.

Jenis media menurut fungsi yang pertama sebagai sarana penyampaian informasi adalah selebaran. Menurut karakteristiknya selebaran merupakan informasi yang dituangkan dalam satu (1) halaman (bisa berukuran kuarto, folio, dan/ atau A4). Oleh karena itu jika dipaksakan untuk membuat selebaran lebih dari satu halaman (baik halaman bolak-balik dalam satu lembar, atau halaman dilembar lain), maka selebaran itu menjadi kurang menarik untuk dibaca.

Jika demikian, memungkinkan informasi yang ada pada halaman lain terlewati dan/ atau tidak terbaca. Atas dasar karakteristik inilah maka guru BK perlu mempertimbangkan banyaknya informasi yang ditulis dalam selebaran tersebut. Apabila isi informasi itu tidak cukup dituangkan dalam satu halaman, maka harus dipilih media lain yang sesuai dengan bahan/ materi bimbingan dan konseling yang ingin diinformasikan.

Selain selebaran ada media leaflet, yang berbentuk brosur dibuat dalam dua halaman bolak-balik.  Lembaran itu dilipat menjadi beberapa bagian, sehingga menampung informasi yang detil. Dalam penyajiannya diatur setiap halaman terdiri dari beberapa sub halaman (biasanya terdiri dari 3-4 sub halaman).

Jumlah total sub halaman dalam brosur yang berupa leaflet itu menjadi 6-8. Karakteristik yang dimiliki leaflet ialah mampu menuangkan informasi dalam jumlah yang lebih banyak (karena terdiri atas dua halaman yang terbagi menjadi 6-8 sub halaman). Seringkali dijumpai dalam leaflet tidak saja informasi yang berupa kata, kalimat, tetapi dapat pula menyajikan gambar-gambar untuk lebih memperjelas isi informasi yang ada.

Leaflet umumnya memiliki tampilan yang lebih menarik karena bentuknya yang serasi (ukuran panjang dan lebar biasanya serasi) dibandingkan dengan selebaran yang hanya memuat satu halaman saja, terlebih lagi jika dicetak dengan menggunakan kertas Luks yang saat ini tidak sulit untuk ditemukan.

Selanjutnya media yang dikemas dalam bentuk booklet, yaitu berupa buku. Media cetak berbentuk buku, tidak ditentukan jumlah halaman dan ukuran besarnya, tetapi disesuaikan dengan tujuan dan kelompok sasaran yang menggunakan buku tersebut. Hal penting yang menjadi perhatian penulis/ perancang booklet adalah kemenarikan baik tampilan maupun isinya.

Dari segi tampilan yaitu menyangkut ukuran dan banyaknya halaman. Biasanya buku tampil menarik jika mudah dibawa dan kualitas kertasnya bagus. Oleh karena itu, booklet sebagai media informasi dalam pelaksanaan program BK dibuat ukurannya mirip "buku saku" dengan mudah dibawa kemana-mana. Demikian juga banyaknya halaman dapat mempengaruhi tampilan booklet.

Booklet dalam bentuk buku saku, jika memuat banyak halaman sampai berpuluh-puluh bahkan ratusan halaman pasti kurang menarik, sehingga siswa menjadi malas membawanya karena akan memberatkannya. Lebih lanjut, yang harus diperhatikan oleh perancang booklet ialah isi informasi. Meskipun booklet dapat memuat informasi yang sebanyak-banyaknya karena tidak ada pembatasan halaman, namun diusahakan agar tidak menimbulkan beban bagi siswa.

Tuangkanlah informasi yang sesederhana mungkin lengkap dengan gambar-gambar. Faktor penting yang diperhatikan dalam sebuah media adalah keterbacaan, oleh karena itu isi informasi dipertimbangkan dari unsur kesederhanaan, kejelasan, kemudahan, dan kemenarikan.

Satu hal lagi terkait dengan media, yakni berupa papan bimbingan yang memuat bahan/ materi untuk menyampaikan informasi secara tertulis di papan (dengan kapur-black board atau spidol-white board atau kertas tempel). Wujud tampilan papan bimbingan itu mirip dengan papan pengumuman. Isi informasi yang termuat pada papan bimbingan disesuaikan dengan visi dan misi bimbingan yang telah ditetapkan oleh Depdiknas (Pengembangan Diri Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, 2006).

Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kemandirian konseli dalam sepanjang perjalanan hidupanya, agar ia berkembang secara optimal, mandiri, dan arif. Sedangkan misi bimbingan meliputi (1) misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan, (2) misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat, dan (3) misi perbaikan/ pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

Oleh karena itu, maka isi informasi harus sesuai dengan tujuan, kebutuhan, dan tingkat perkembangan, agar peserta didik mampu mengembangkan potensinya kearah yang lebih positif, dapat mencapai perkembangan yang optimal, dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dalam hidupnya (common good).

Sedangkan isi informasi dalam papan pengumuman bersifat umum, misalnya daftar siswa penerima beasiswa, pengumuman hari libur, jadwal karya wisata, penerimaan siswa baru, dsb. Sama seperti media informasi lainnya, bahwa papan bimbingan juga memiliki karakteristik yang perlu diperhatikan oleh guru BK, agar dapat dimanfaatkan oleh kelompok sasaran dengan tepat.

Karakteristik pertama, bahwa papan bimbingan itu jumlahnya terbatas. Di satu sekolah jumlah papan bimbingan dipastikan terbatas, tidak mungkin bisa banyak, karena jika terlalu banyak disediakan, maka dapat mengganggu keindahan sekolah tersebut.

Kedua, penempatan papan bimbingan itu harus dipilih tempat yang strategis. Tempat strategis itu diperlukan dengan maksud agar papan bimbingan itu dapat dengan mudah dijangkau oleh kelompok sasaran yakni siswa. Jika penempatannya tidak dipertimbangkan, maka kecil kemungkinannya informasi pada papan bimbingan itu tidak dibaca oleh siswa, atau karena siswa tidak merasa perlu untuk tahu isi informasi itu. Jika demikian yang terjadi, maka akan menimbulkan kerugian, yaitu informasi tidak sampai pada kelompok sasaran.

Ketiga, papan bimbingan itu isinya memuat informasi yang ingin menjangkau semua siswa. Keempat, papan bimbingan itu tidak mudah dipindah-pindah yang berbeda dengan media selebaran, leaflet, maupun booklet yang dapat dibawa kemana-mana dengan mudah. Atas dasar karakteristik yang telah dikemukakan di atas maka guru BK harus menyesuaikan pembuatan informasi yang akan dimuat dalam papan bimbingan.

Dalam membuat papan bimbingan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh Guru BK ialah isi informasi tersebut singkat, hurufnya menarik dengan ukuran yang terbaca dari jarak yang agak jauh, serta memiliki daya tarik kuat untuk dibaca (dengan memadukan kreasi pilihan warna), sehingga sepintas sambil berjalan mudah terbaca tuntas semua isi informasi dalam papan bimbingan itu. Berikut contoh isi informasi pada papan bimbingan.

Apabila isi informasi dalam papan bimbingan sangat banyak, maka siswa merasa malas untuk membaca, karena harus berdiri berlama-lama di depan papan bimbingan. Papan bimbingan yang jumlahnya terbatas itu dapat menimbulkan kerumunan (karena untuk banyak siswa), sehingga dapat menimbulkan keengganan siswa.

Pemilihan media pemberian informasi, apakah menggunakan selebaran, leaflet, booklet, atau papan bimbingan terlebih dahulu harus mengenali karakteristik masing-masing. Jika guru BK keliru dalam mengenali karakteristik tiap media, maka dapat mempengaruhi tingkat pencapaian pemberian layanan informasi. Alih-alih berdampak merugikan bagi guru BK sendiri, siswa, orangtua, maupun sekolah. Selain itu, faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan media pemberian informasi ialah biaya dan keahlian guru BK.

Setiap pembuatan media memerlukan biaya. Dalam pembuatan booklet pasti biaya yang dibutuhkan lebih mahal dibanding dengan membuat leaflet. Biaya untuk membuat leaflet lebih mahal dibanding dengan membuat selebaran yang hanya menggunakan selembar kertas biasa. Pembuatan papan bimbingan paling ringan biayanya bilamana papannya telah tersedia.

Sedangkan pertimbangan kemampuan konselor untuk membuat media dapat diatasi dengan jalan memanfaatkan jasa ahli di bidang media yang dewasa ini sudah cukup tersedia di masyarakat. Meskipun ide mengenai isi informasi baik berupa kalimat/ kata-kata maupun gambar-gambar tetap menjadi kewenangan bagi guru BK. Artinya rancangan  berupa model, isi, gambar, sekuensi/ urutan, tetap harus disiapkan oleh seorang guru BK, karena dialah yang menguasai dan kompeten dalam bimbingan dan konseling.   

2. Media sebagai Asesmen Bimbingan dan Konseling dalam Pengumpul dan Penyimpan Data

Salah satu kegiatan pendukung yang dilakukan dalam program BK berupa aplikasi instrumentasi dan himpunan data. Aplikasi instrumentasi yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui berbagai teknik tes dan non tes. Sedangkan himpunan data adalah menghimpun data yang relevan dengan perkembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.

Media sebagai pengumpul data, merupakan teknik untuk mengumpulkan data siswa dan lingkungannya. Keterangan/ data tentang siswa, misalnya: kecerdasan, bakat, minat, keinginan masa depan, hobi, prestasi, kesehatan, dan sebagainya. Demikian keterangan/ data lingkungan siswa, seperti: keluarga, teman, guru maupun masyarakat, sehingga dengan demikian maka pemahaman terhadap lingkungan ini menjadi mutlak diperlukan.

Dalam kegiatan aplikasi instrumentasi sangat jelas diperlukan instrumen untuk mengumpulkan data. Alat pengumpul data berupa non tes dapat dikembangkan sendiri oleh guru BK, sedangkan pengumpulan data tes guru BK menggunakan hasil tes yang telah ada. Asesmen non tes seperti: angket/ kuesioner, pedoman wawancara, lembar pengamatan (yang berupa anecdotal record, daftar cek, skala penilaian, tally, mekanikal device kamera, tape), studi habit, daftar cek masalah, angket sosiometri, otobiografi, dan sebagainya (Nur Hidayah, 2010).

Instrumen non tes dapat dibuat sendiri oleh guru BK atau menggunakan instrumen yang sudah tersedia. Meskipun demikian, seandainya guru BK menggunakan instrumen yang bukan buatannya sendiri hendaknya tetap mencermati kesesuaian alat dengan kebutuhan penggalian data. Dengan kata lain guru BK tidak boleh hanya sekedar sebagai pemakai tanpa mengkritisi isi instrumen itu. Karena seringkali dijumpai item pertanyaan atau pernyataan sudah tidak relevan lagi untuk kepentingan bimbingan saat ini dan yang akan datang.

Alat pengumpul data yang tergolong tes, sebagaimana tes terstandar, baik waktu pelaksanaan, prosedur kerja, cara penyekoran, pedoman konversi, batasan usia pemakainya/ penormaan, dan lainnya. Sebenarnya tes bisa dikembangkan oleh guru BK sepanjang kaidah-kaidah pengembangan tes diperhatikan, misalnya yang menyangkut penormaan, standar pelaksanaan, standar penilaian, standar waktu, pedoman konversi, serta validitas dan reliabilitasnya.

Dari ketentuan ini jelas sekali pengembangan instrumen tes bukan pekerjaan mudah, sehingga memerlukan keseriusan yang tinggi dari seorang guru BK. Jika hal demikian tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka guru BK bisa memanfaatkan jasa layanan tes yang dewasa ini cukup banyak tersedia hampir di seluruh kota baik oleh perorangan maupun oleh lembaga yang khusus memberikan jasa di bidang tes psikologis.

Ketika seorang guru BK melancarkan angket, maka yang harus dipikirkan ialah meminta responden untuk menjawab apa adanya. Apabila untuk mengerjakan angket membutuhkan waktu lama, rumit, bertele-tele, maka dipastikan responden akan jenuh, sehingga responden mengisi seenaknya saja. Oleh karena itu, angket dirancang simpel dan mudah dikerjakan, misalnya dengan cara membubuhkan tanda silang, kalaupun harus menulis usahakan singkat-singkat saja.

Dengan kata lain, prinsip penyusunan instrumen adalah mengandung unsur kepraktisan yakni mudah pengadministrasiannya dan relevan dengan tujuan pengumpulan data yang dikehendaki. Selain hal yang menyangkut kepraktisan penggunaan alat itu, juga harus dipertimbangkan bahwa data yang terkumpul itu selanjutnya harus diolah dan dianalisis guna kepentingan layanan bimbingan dan konseling. Jika instrumen rumit penggunaannya, maka berakibat rumit pula pengolahan dan analisisnya.

Misalnya pertanyaan untuk mengetahui jumlah saudara dilakukan secara terbuka, maka akan lebih rumit menganalisisnya jika dibandingkan pertanyaan itu disajikan dengan jawaban tertutup. Demikian pula data penghasilan orang tua per balan/ tahun, juga akan sulit dibuat analisisnya jika pertanyaannya dilakukan secara terbuka. Meskipun demikian, bukan berarti pertanyaan terbuka itu tidak diperlukan.

Untuk mengetahui data lengkap orangtua maka pertanyaan terbuka lebih cocok, seperti: nama, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, pendidikan, dsb. Dalam melaksanakan program BK diperlukan pula pemahaman aspek-aspek psikis siswa, misalnya aspek inteligensi, bakat, minat, dan kepribadian. Aspek psikis sebagaimana di sebutkan diukur melalui tes psikologis. Tes psikologis dimaksud adalah tes inteligensi, tes bakat, tes minat, dan tes kepribadian.

Seperti inventori kepribadian memungkinkan untuk dikembangkan sendiri oleh guru BK asalkan memperhatikan kaidah-kaidah yang dipersyaratkan dalam pengembangan tes seperti telah dijelaskan dibagian terdahulu. Namun apabila ada kendala yang dijumpai oleh seorang guru BK, maka guru BK bisa memanfaatkan jasa layanan tes psikologis. Seorang guru BK perlu memastikan persyaratan sebuah tes yang baik yakni valid dan reliable. Biasanya para pemberi jasa layanan tes semacam ini telah mencantumkan besarnya validitas maupun reliabilitas sebuah tes yang berupa angka korelasi. Jika angka korelasi yang ditunjukkan mendekati angka 1.00 pertanda tes itu baik, sebaliknya jika makin jauh dari angka itu maka validitas dan reliabilitasnya pantas diragukan.

Ketika seorang guru BK menggunakan tes psikologis khususnya  tes inteligensi (populer dengan istilah tes IQ)  terdapat saran praktis yang harus dipertimbangkan, yakni: (1) tes yang disusun diluar negeri hendaknya dilakukan adaptasi dengan budaya di Indonesia, (2) IQ bukan semata-mata dipengaruhi oleh pembawaan sejak lahir yang diturunkan oleh ayah dan ibunya, (3) hasil tes IQ tidak konstan atau ajeg, maka lakukan tes secara periodik, jika perlu lakukan tes dengan jenis tes yang berbeda sebagai pembanding, (4) alat tes IQ perlu direvisi untuk dikalibrasi jika sudah terlalu lama, dan (5 tes IQ bukanlah hal yang serba menentukan, oleh karena itu gunakan pula tes inteligensi lain maupun tes prestasi belajar lain yang dapat memberikan gambaran inteligensi seseorang.
Faktor penting lain yang harus diperhatikan oleh seorang guru BK ialah cara menyampaikan hasil tes inteligensi kepada siswa.

Hendaknya tetap memberikan jaminan konfidensial atau kerahasiaan hasil tes kepada pemiliknya. Karena itu cara penyampaiannya harus dilakukan secara individual, disertai dengan penjelasan yang detil. Jika tidak demikian, dapat terjadi informasi tentang besarnya IQ membuat siswa menjadi down setelah diketahui hasil tesnya rendah, sebaliknya siswa menjadi over confidence karena hasil tesnya sangat tinggi.

Padahal semuanya belum menjamin secara pasti sebagaimana telah diisyaratkan di atas. Manfaatkan hasil tes secara profesional dan proporsional sesuai dengan kaidah-kaidah penggunaan sebuah instrumen yang bernama tes inteligensi sebagaimana telah dikemukakan beberapa ahli.
Media BK yang digunakan untuk menyimpan data berupa: kartu pribadi, buku pribadi, map pribadi, disket, folder, filing cabinet, dan almari.

Peralatan tersebut digunakan untuk menyimpan data yang telah dikumpulkan melalui kegiatan pendukung aplikasi intrumentasi bimbingan. Sebelum dilakukan penyimpanan dalam kegiatan himpunan data maka terlebih dahulu data itu harus diolah, dianalisis baik analisis kelompok maupun analisis perorangan.

Analisis data secara kelompok misalnya data tentang asal sekolah siswa, dapat ditentukan persentasenya atas dasar negeri dan swasta, sekolah agama dan sekolah umum. Demikian juga data tentang pekerjaan ayah dapat ditetapkan persentasenya atas dasar klasifikasi PNS/ ABRI, karyawan swasta, wiraswasta, petani, pedagang, buruh pabrik. Data tentang jauhnya jarak sekolah dengan tempat tinggal siswa dapat ditetapkan persentasenya atas dasar kurang dari 1 km, antara 1 km sampai dengan 2 km, lebih dari 2 km.

Sedangkan analisis data perorangan data itu dianalisis, dipahami, dicermati tanpa dihubungkan dengan data teman/ kelompok lainnya sebagaimana analisis data secara kelompok yang selalu dikaitkan dengan data teman lainnya. Analisis data secara kelompok biasanya dilanjutkan pembuatan visualisai dalam bentuk grafik yang ini dapat ditempatkan atau dipajang di ruang bimbingan, yang kadang-kadang cara demikian menjadi tanda maraknya pelaksanaan bimbingan di suatu sekolah. Sedangkan analisis data secara perorangan dimanfaatkan untuk pemahaman seorang siswa terutama siswa yang membutuhkan penanganan khusus.

Misalnya siswa yang membutuhkan layanan konseling secara perorangan, siswa yang memerlukan penempatan dan penyaluran secara tepat dalam pemilihan jurusan. Selanjutnya data yang telah diolah dan dianalisis, kemudian disimpan secara baik pada catatan kumulatif, sehingga memudahkan apabila sewaktu-waktu data itu diperlukan. Data yang telah disimpan dalam catatan kumulatif (CR) tidak saja diperlukan untuk kepentingan pelaksanaan bimbingan, tetapi bisa pula untuk kepentingan lainnya misalnya untuk pemberian beasiswa, siswa teladan, pelacakan keabsahan ijazah, mutasi, dan sebagainya.

Kartu pribadi/ buku/ map pribadi dapat memuat seluruh data siswa yang bersangkutan, baik data tentang diri siswa sendiri maupun data tentang lingkungannya. Teknis pengisian kartu atau buku pribadi ini dapat dilakukan oleh murid sendiri atau dikerjakan oleh guru BK dengan cara memindahkan data yang telah didapat dari instrumen pengumpulan data sebelumnya, misalnya dari angket, studi habit, DCM, sosiometri, tes, dan sebagainya.

Map pribadi yakni berupa map yang diperuntukkan menyimpan data pribadi setiap anak dengan cara menghimpun atau menyatukan instrumen yang telah dilancarkan dalam aplikasi instrumentasi bimbingan sebelumnya. Sesuai dengan namanya maka setiap anak disiapkan satu map pribadi untuk menghimpun data dirinya sejak ia masuk sekolah hingga yang bersangkutan tamat dari sekolah. Untuk memudahkan dalam pencarian data harus dibuat sistem penyimpanan.

Sistem itu misalnya dengan pengurutan berkas melalui urutan abjad, sehingga memudahkan jika sewaktu-waktu mencari data yang dikehendaki. Penyimpanan berkas tanpa disertai dengan sistem yang baik akan menyulitkan ketika hendak mencari data tertentu yang dikehendaki. Keadaan demikian kadang akan menimbulkan pemborosan waktu, karena harus mencari-cari dengan membongkar tumpukan berkas.

Folder, pada hakikatnya sama dengan map pribadi yakni alat untuk menghimpun instrumen yang telah diisi oleh siswa. Karena itu pemanfaatan folder sama dengan pemanfaatan map pribadi, baik dalam pengerjaan maupun dalam penempatannya.

Dengan kemajuan teknologi informasi khususnya di bidang computer, maka penyimpanan data bisa pula dilakukan di dalam disket, baik pada hardisk, hardisk eksternal, CD, flaskdisk, bahkan dapat dirancang dalam bentuk catatan kumulatif berbasis komputer. Alat elektronik, pada dasarnya mampu menyimpan data dalam jumlah besar dan memiliki kelebihan dari segi aksebilitas, mudah, dan cepat mengaksesnya jika diperlukan. Jika tidak demikian, maka layanan bimbingan akan berjalan ditempat, kurang menimbulkan daya tarik baik penerima jasa layanan terutama siswa mupun pelaksananya yakni guru BK itu sendiri.

Filing cabinet merupakan tempat untuk menyimpan kartu pribadi, buku pribadi, map pribadi, dan folder yang berisi rekaman data siswa. Biasanya filing cabinet itu berbentuk susunan laci yang jumlahnya lebih dari dua susun. Sedangkan rak data, merupakan rak susun yang dapat dipergunakan untuk menempatkan kartu pibadi, buku pribadi, map pribadi, dan folder.

Pada rak tersebut biasanya ditempatkan berdiri berjajar untuk memudahkan mencarinya ketika data dibutuhkan. Hal ini berbeda dari cara penempatannya jika dibandingkan dengan penempatan pada filing cabinet yang biasanya ditempatkan secara bertumpuk. Adapun almari data, berupa almari yang dipergunakan untuk menyimpan data maupun alat-alat bimbingan lainnya. Almari dapat ditempatkan pada ruang bimbingan maupun ruang kerja guru BK.

Dalam almari itu bisa dipergunakan untuk menyimpan kartu pribadi, buku pribadi, map pribadi, folder maupun alat lainnya seperti instrumen pengumpul data, beberan simulasi sebagai media bimbingan kelompok, brosur-brosur untuk kepentingan pelaksanaan layanan informasi, serta benda lainnya.

Dalam kegiatan pendukung yang berupa aplikasi instrumentasi maupun kegiatan himpunan data perlu diperhatikan beberapa prinsip yang mendasarinya yakni: (1) prinsip kerahasiaan dan (2) prinsip keamanan. Kedua prinsip ini harus selalu diusahakan dapat terjaga agar pelaksanaan program BK dapat berjalan lancar.

Prinsip kerahasiaan merupakan prinsip penting yang berupa tetap terjaganya rahasia data yang dimiliki oleh unit bimbingan. Artinya data yang dimiliki oleh unit bimbingan itu harus dijaga kerahasiaannya tidak dengan mudah diketahui oleh pihak lain jika pihak lain itu tidak berkepentingan dengan penyelesaian masalah konseli.

Agar dapat memenuhi prinsip ini, maka salah satu caranya ialah menempatkan data itu pada posisi yang tidak mudah dijangkau oleh sembarang orang dan sudah barang tentu personil yang memegang data itu juga harus dapat dipercaya integritasnya. Dalam hal demikian sangat jelas sekali bahwa tuntutan terhadap kompetensi guru BK untuk bisa menjaga rahasia konseli menjadi mutlak. Demikian pula bilamana ada personil lain, misalnya petugas administrasi bimbingan, maka kompetensi itu juga mutlak dipersyaratkan agar tidak merugikan siswa yang memperoleh layanan bimbingan.

Prinsip lain yang juga tidak kalah pentingnya dalam pengumpulan dan penyimpanan data siswa ialah prinsip kemudahan. Prinsip kemudahan dimaksudkan sebagai upaya agar memperoleh kemudahan ketika data siswa diperlukan baik untuk kepentingan bimbingan maupun kepentingan lainnya, seperti untuk mencari calon penerima beasiswa, calon siswa teladan, pelacakan keabsahan ijazah alumni, mutasi, dan sebagainya. Pemenuhan terhadap prinsip ini dapat dilakukan dengan menyusun berkas map pribadi, buku pribadi menurut urutan abjad. Susunan berdasar urutan abjad jauh lebih mudah dalam mencarinya dibanding dengan cara lainnya, seperti mengurutkannya berdasarkan urutan nomor induk siswa.

Dalam praktiknya untuk memenuhi kedua prinsip itu tidak mudah, namun demikian harus tetap diusahakan oleh siapapun guru BK. Jika mengutamakan prinsip kerahasiaan biasanya akan mengabaikan prinsip kemudahan, sebaliknya jika mengutamakan prinsip kemudahan akan mengabaikan prinsip kerahasiaan. Pengabaian salah satu apalagi kedua prinsip, berarti dapat menimbulkan kerugian terutama bagi siswa yang dilayani maupun bagi kelancaran pelaksanaan program BK di sekolah.

Penyimpanan data dengan disket, baik berupa hardisk, flaskdisk, compact disk atau CD sepertinya lebih memungkinkan untuk bisa memenuhi kedua prinsip penyimpanan itu jika dibandingkan dengan penyimpanan secara manual seperti kartu pribadi, map pribadi, buku pribadi, penyimpanan di rak, filing cabinet dan almari. Karena itulah penyimpanan data siswa disarankan dengan menggunakan teknologi komputer menjadi suatu harapan memenuhi prinsip kerahasiaan, kemudahan, fleksibilitas untuk kepentingan bimbingan diwaktu-waktu yang akan datang.

3. Media sebagai Alat Bantu dalam Memberikan Informasi Secara Kelompok

Layanan informasi dapat diberikan secara perorangan mupun secara kelompok. Layanan informasi secara kelompok (lazim disebut group information) ialah memberikan penerangan kepada sejumlah orang secara bersama-sama atau klasikal. Oleh karena itu, group information ini bentuknya mirip seperti pemberian instruksional atau pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran atau guru kelas.

Kemiripan itu berupa adanya sejumlah murid yang dihadapi secara bersama atau klasikal, adanya materi yang akan diterangkan atau diinformasikan kepada sejumlah siswa. Langkah-langkah yang ditempuh ketika berlangsungnya group information itu tidak berbeda dengan langkah pembelajaran pada umunya, yakni: pendahuluan/ overview, penyampaian materi pokok, dan diakhiri dengan penutup kegiatan. Diperlukan pula adanya alat atau media untuk membantu memperjelas informasi yang akan diberikan kepada siswa.

Kegiatan yang dilakukan oleh guru BK mirip seperti guru yang melakukan pembelajaran yakni menjelaskan, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan memberikan tugas. Demikian juga yang dilakukan siswa tidak ubahnya ketika ia menerima pembelajaran dari gurunya yakni berupa mendengarkan penjelasan, mencatat keterangan guru, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, maupun mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Bahkan diakhir kegiatan group information dilakukan pula semacam evaluasi yaitu kegiatan penilaian untuk mengetahui apakan isi informasi yang diberikan oleh guru BK telah difahami dengan baik oleh siswa atau belum. Bentuk evaluasi dibuat secara lisan atau tertulis.

Adanya kemiripan dalam proses kegiatan antara group information dengan pembelajaran. Dalam pelaksanaan group information itu menuntut penyiapan kegiatan secara tertulis. Persiapan secara tertulis itulah dibuat dalam RPBK yang merupakan singkatan Rencana Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Komponen yang harus tertuang dalam RPBK, meliputi: (1) rumusan tujuan layanan informasi, (2) materi informasi, (3) strategi penyampaian informasi/ kegiatan guru BK- siswa ketika berlangsungnya group information, (4) alokasi dan urutan waktu penyampaian, (5) media yang akan digunakan, serta (6) evaluasi dan tindak lanjut yang akan dilakukan. Khusus tentang media yang akan digunakan, maka media lebih dimaksudkan sebagai alat bantu, yakni seperangkat alat yang dapat mempermudah dalam menjelaskan isi informasi yang akan disampaikan oleh Guru BK kepada siswa.

Media yang digunakan dalam group information pada dasarnya berupa: (1) media auditif, (2) media visual, dan (3) media audiovisual. Media auditif, merupakan media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja seperti radio, tape recorder, piringan hitam. Media visual ialah media yang hanya mengandalkan fungsi indera penglihatan saja.

Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip, slide foto, transparansi, lukisan, grafis, gambar, dan bahan cetak. Ada juga media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, dan film kartun. Media audiovisual merupakan media yang mempunyai unsur suara dan gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang telah di sebutkan, seperti multimedia dan media elektronik.

Dalam menentukan media yang akan digunakan ketika memberikan group information, maka perlu mengikuti beberapa prinsip berikut: (1) menentukan jenis media dengan tepat, artinya memilih terlebih dahulu jenis media yang sesuai dengan tujuan dan materi informasi yang akan disampaikan, (2) menetapkan atau memperhitungkan kondisi siswa yang akan menerima layanan informasi, artinya perlu dipertimbangkan tingkat kemampuan/ kebutuhan siswa yang bersangkutan, (3) menyajikan media dengan tepat, artinya teknik penggunaan media harus disesuaikan dengan tujuan, waktu, materi, dan sarana yang ada, dan (4) menempatkan dan memperlihatkan pada waktu, tempat dan situasi yang tepat, artinya kapan dan dalam situasi apa media itu digunakan. Tentu tidak dibenarkan jika media secara terus menerus diberikan sepanjang berlangsungnya group information.

Adapun faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media ialah: (1) obyektifitas, (2) isi/ materi informasi, (3) kelompok sasaran, (4) situasi dan kondisi, dan (5) kualitas teknik, dan keefektifan dan efisiensi penggunaan. Obyektifitas, dimaksudkan bahwa ketika memilih media guru BK harus menghindari subyektifitas yakni hanya memilih media yang disenanginya semata.

Media yang dipilih haruslah media yang secara obyektif dapat membantu penangkapan isi informasi. Isi/ materi informasi, artinya media yang dipilih haruslah sesuai dengan isi inforamasi yang akan diberikan kepada siswa. Kelompok sasaran, artinya bahwa media yang dipilih haruslah sesuai dengan kondisi siswa yang menerima layanan informasi, sesuai dengan tingkat perkembangan psikis termasuk perkembangan berpikir siswa. Sedangkan situasi dan kondisi, lebih dimaksudkan sebagai kondisi sekolah di mana guru BK bekerja, terutama yang menyangkut kemampuan sekolah untuk menyediakan biaya pembuatan media. Jika tidak memungkinkan untuk pengadaanya maka dipastikan harus menetapkan pilihan media lain yang memungkinkan. 

Berkaitan dengan kriteria pemilihan media, Sudjana dan Rivai (1991) mengemukakan rambu-rambu dalam memilih media pembelajaran sebagai berikut: (1) Ketepatan dengan tujuan pembelajaran, artinya media yang dipilih atas dasar tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan pembelajaran yang berisi unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, lebih mungkin digunakannya media pembelajaran, (2) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan/ materi pelajaran yang bersifat fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami, (3) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah didapat, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa mengeluarkan biaya yang mahal, disamping sederhana dan mudah penggunannya, (4) Keterampilan guru dalam menggunakannya, apapun jenis media yang diperlukan syarat utama ialah guru dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunannya oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar siswa dengan lingkungannya, Adanya OHP, proyektor film, komputer, LCD, dan alat-alat canggih lainnya, tetap dapat menggunakannya dalam pembelajaran untuk mempertinggi kualitas pembelajaran, (5) Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pembelajaran belangsung, (6) Sesuai dengan taraf bepikir siswa, artinya ketika guru memilih media pembelajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa.

Menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk persen bagi siswa SD kelas-kelas rendah tidak ada manfaatnya. Mungkin lebih tepat jika dalam bentuk gambar atau poster. Demikian juga diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya dapat dilakukan bagi siswa yang telah memiliki tingkat berpikir tingkat tinggi.

(Kriteria sebagaimana di sebutkan merupakan kriteria untuk guru mata pelajaran atau guru kelas ketika melakukan pembelajaran, akan tetapi ada banyak kemiripan antara pembelajaran dengan informasi kelompok seperti telah dijelaskan sebelumnya, maka kriteria tersebut dapat digunakan oleh guru BK ketika memilih media dalam melaksanakan group information).

Lebih lanjut, fungsi media dalam pembelajaran dijelaskan oleh Sudjana (1991) dan Nursalim, dkk, ( 2010), sebagai berikut: (1) Penggunaan media dalam proses belajar dan pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif, (2) Penggunaan media pembelajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi pembelajaran.Artinya, media pembelajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh guru, (3) Media dalam pembelajaran, penggunannya integral dengan tujuan dari isi pembelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa pemanfaatan media harus melihat tujuan dan bahan pembelajaran, (4) Penggunaan media dalam pembelajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekadar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa, (5) Penggunaan media dalam pembelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar dan pembelajaran serta membantu siswa untuk menangkap pengertian yang diberikan oleh guru, dan (6) Penggunaan media dalam pembelajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu pembelajaran. Dengan kata lain, penggunaan media dalam pembelajaran, memungkinkan hasil belajar yang dicapai oleh siswa akan diingat dengan tahan lama, sehingga mempunyai nilai tinggi.

Ketika fungsi media pembelajaran diaplikasikan ke dalam proses pembelajaran, maka terlihat peranannya sebagai berikut: (1) Media yang digunakan guru sebagai penjelasan dari keterangan atau informasi terhadap suatu bahan yang disampaikan guru, (2) Media dapat memunculkan permasalahan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh siswa dalam proses belajarnya. Paling tidak guru dapat memperoleh media sebagai sumber pertanyaan atau stimulasi belajar siswa,dan (3) Media sebagai sumber belajar bagi siswa. Media sebagai bahan konkrit berisi bahan-bahan yang harus dipelajari oleh para siswa, baik individual maupun kelompok. Kekonkritan sifat media itulah yang dapat membantu tugas guru dalam kegiatan pembelajaran.

Bertolak pada rambu-rambu kriteria serta fungsi dan peranan media sebagaimana di sebutkan, jelas pemakai media baik guru mata pelajaran dan guru kelas saat melakukan pembelajaran, maupun guru BK ketika melaksanakan layanan bimbingan kelompok atau klasikan tidak boleh menggunakan media secara sembarangan.

Artinya mereka harus memilih media dengan tepat dan cermat, memperhatikan kondisi siswa yang menjadi kelompok sasaran media, mempertimbangkan kemampuan/ kompetensi guru itu sendiri apakah memiliki keterampilan untuk membuat, mengadakan, dan mengoperasikan media yang dipilihnya itu. Demikian juga guru harus pula mempertimbangkan ketersediaan media yang dipilih, sehingga penggunaan media dapat memiliki nilai tambah bagi kelancaran untuk memperjelas isi/ materi yang diterangkan selama proses pembelajaran tanpa harus membebani berbagai pihak termasuk siswa dan guru.

4. Media untuk Bibliokonseling

Dalam rangka menangani masalah siswa belakangan ini telah muncul cara-cara baru yang ditawarkan oleh para ahli, khususnya ahli di bidang psikoterapi/ konseling. Dengan asumsi bahwa setiap individu pada dasarnya mampu mengatasi masalahnya sendiri dan pada dasarnya setiap individu ingin hidup tanpa banyak masalah. Oleh kerena itu, penanganan masalah melalui biblioterapi/ bibliokonseling ini penting untuk dikembangkan.

Khususnya, asumsi yang kedua yakni adanya keinginan bagi setiap individu untuk tidak memiliki banyak masalah dalam hidupnya. Asumsi tersebut sangat relevan dengan kondisi siswa di sekolah yakni mereka adalah individu normal yang sedang menghadapi masalah dalam perjalanan hidupnya. Artinya siswa-siswa di sekolah yang menjadi kelompok sasaran layanan bimbingan adalah individu normal bukan individu yang mengalami penyakit jiwa yang akut. Mereka memiliki kesadaran apa yang sebaiknya dilakukan, perilaku bagaimana yang harus ditampilkan, sikap seperti apa yang pantas ditampakkan walaupun dia sedang bermasalah.

Karena itu melalui penyediaan buku atau bahan pustaka yang memuat cara mengatasi masalah seperti: cara mengatasi rendah diri, cara mengatasi konflik, cara mengambil keputusan yang tepat, cara mengelola stres belajar, cara mengembangkan keterampilan sosial, dan lainnya dapat digunakan oleh siswa sebagai bahan bacaan yang lebih lanjut diharapkan muncul pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Penyediaan media self-help dalam bentuk buku-buku atau bahan pustaka lainnya yang dapat membantu memecahkan masalah siswa itulah yang di sebut dengan biblioterapi/ bibliokonselig.

Buku-buku atau bahan pustaka lain yang disediakan di perpustakaan atau di ruang BK sebenarnya tidak hanya berguna untuk biblioterapi/ bibliokonseling dalam arti membantu seseorang yang terlanjur bermasalah, akan tetapi sebenarnya bisa pula dimanfaatkan oleh siapapun termasuk siswa yang belum atau tidak bermasalah. Dengan membaca buku yang membahas tentang cara-cara mengatasi masalah seperti itu maka seorang siswa yang belum bermasalah juga memperoleh manfaat yakni dimilikinya pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan mengatasi masalah, jika kelak dikemudian hari menghadapi masalah serupa mereka dapat terhindar dari masalah.

Media yang berupa buku atau bahan pustaka lain dalam hal ini bibliokonseling yang tersedia akan memiliki fungsi korektif yakni pengentasan masalah yang dihadapi sesorang. Fungsi lain penyediaan bibiliokonseling ialah fungsi preventif yakni fungsi untuk mencegah munculnya masalah bagi siswa-siswa. Demikian pula penyediaan bibliokonseling dapat pula memenuhi fungsi preservatif dan development, yakni fungsi untuk memelihara kondisi siswa agar tetap terpelihara dengan baik dan pengembangan potensi siswa ke arah yang lebih optimal.

Bahan pustaka (bibliokonseling) yang perlu disediakan sebenarnya tidak saja yang memuat tentang cara-cara mengatasi masalah, tetepi lebih jauh disediakan buku lain untuk menjadi bahan bacaan siswa yang sesuai dengan visi dan misi bimbingan di sekolah. Misalnya buku yang memuat tentang kisah orang sukses, membangun etos kerja, sikap tegar menghadapi kegagalan (adversity quotion), membentuk pribadi luhur, bersikap tenggang rasa dengan sesame, bersahabat, dan lain sebagainya.

Buku-buku demikian memuat pengetahuan yang sangat berguna bagi kehidupan siswa saat sekarang serta di waktu-waktu mendatang. Dalam kaitannya dengan media sebagai bibliokonseling, bahwa sikap/ semangat membaca memang perlu ditumbuhkan di kalangan siswa, karena membaca belum menjadi budaya bagi sebagian siswa-siswa di sekolah.

5. Media Untuk Menyampaikan Laporan BK 

Pelaksanan program BK harus dilaporkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, sebagai bentuk pertanggungjawaban guru BK yaitu: Kepala Sekolah, Pengawas bidang BK, Dinas Diknas, dan Yayasan pendiri sekolah. Melalui penyampaian laporan penyelenggaraan program BK dapat diketahui sejauhmana program BK telah terlaksana, apa yang menjadi hambatan, dan daya dukung apa yang dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program.

Laporan BK didasarkan pada program BK yang telah lebih dahulu dibuat (dibuat awal tahun ajaran). Dalam laporan itu disampaikan program-program mana yang dapat dijalankan, bagaimana kuantitas dan kualitas pelaksanaan, waktu pelaksanaan, biaya yang dikeluarkan, tenaga yang mengerjakan (pelaksana kegiatan), dan informasi lainnya yang perlu dilaporkan.

Dengan isi laporan seperti itu maka laporan dapat dipakai oleh pimpinan sekolah dalam membuat kebijakan yang sesuai untuk perbaikan pelakasanaan program BK di waktu yang akan datang. Demikian pula laporan itu bisa digunakan oleh guru BK sendiri sebagai bahan kajian untuk memperbaiki diri bagi kinerjan pada waktu berikutnya.

Laporan bulanan dibuat dengan menuangkan isi laporan itu ke dalam matriks atau grafik yang telah disiapkan, atau bisa pula dibuat dalam bentuk narasi. Mana yang seharusnya dibuat dalam bentuk matriks/ grafik atau narasi sangat bergantung pada kebiasaan mana yang diberlakukan. Laporan dalam bentuk matriks/ grafik sepertinya lebih mudah dalam pembuatannya maupun dalam memahaminya. Namun demikian bukan berarti laporan dalam bentuk narasi pun punya kelebihan.

Dalam hal ingin memahami secara komprehensif sebuah laporan BK dalam bentuk narasi lebih memungkinkan, karena dalam laporan berbentuk narasi akan dapat diketahui rasional, keterkaitan satu kejadian dengan kejadian lainnya, memungkinkan menyertakan suatu analisis dan tindak lanjutnya. Sesuai dengan waktu laporan itu dibuat oleh seorang guru BK, maka laporan BK diklasifikasikan menjadi: (1) laporan mingguan, (2) laporan bulanan, (3) laporan semesteran, dan (4) laporan tahunan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jenis-Jenis Media Bimbingan dan Konseling"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel