Senin, 15 Januari 2018

Pengertian Konseling Realita, Konsep Dasar dan Prosesnya

Figur Kunci dari Konseling Realitas adalah William Glasser (penemu) dan Robert Wubbolding. Teori Pilihan (Choice Theory), menyediakan suatu kerangka kerja tentang mengapa dan bagaimana orang-orang berbuat. Teori Pilihan mempunyai kaitan dengan dunia fenomena konseli dan menekankan cara pandang subjektif di mana konseli merasa dan bereaksi kepada dunia mereka dari lokus evaluasi internal.

Perilaku dipandang sebagai usaha terbaik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Perilaku adalah penuh arti, dirancang untuk menutup senjang antara apa yang kita  inginkan dan apa yang kita rasa sedang menjadi pada kita. Perilaku spesifik selalu diturunkan dari kesenjangan ini. Perilaku kita datang dari dalam, dan dengan begitu kita memilih tujuan kita sendiri.

Model ini menyediakan suatu struktur untuk konseli dan konselor dalam mengevaluasi derajat dan naturalitas perubahan. Teori ini terdiri atas konsep sederhana dan jelas yang mudah dipahami oleh banyak orang dalam berbagai bidang jasa, dan prinsip-prinsipnya dapat digunakan oleh orang tua, para guru, pelayan/pejasabantuan, pendidik, para manajer, konsultan, para penyelia, karyawan kemasyarakatan, dan konselor.

Sebagai model positif dan berorientasi tindakan, model ini memberikan tawaran bagi berbagai konseli yang secara khas dipandang sebagai "sukar untuk menerima perlakukan." Jantung konseling Realitas terdiri atas menerima tanggung jawab pribadi dan pemerolehan kendali yang lebih efektif. Setiap orang mempunyai tanggung jawab pada hidup mereka bukannya menjadi korban keadaan di luar kendali mereka. Model Konseling ini mengajar konseli untuk memusatkan pada  apa  yang mereka mampu dan ingin lakukan saat ini untuk mengubah perilaku mereka.

Konsep Dasar Konseling Realitas

Konseling Realitas didasarkan pada premis pokok teori pilihan, yang menyatakan bahwa kita  adalah makhluk dalam proses menjadi menentukan diri (self-determining being). Oleh karena kita memilih perilaku total kita, maka kita bertanggung jawab atas bagaimana kita  bertindak, berpikir, merasakan, dan keadaan fisiologis kita. Premis utama teori pilihan adalah bahwa semua perilaku diarahkan pada memuaskan kebutuhan untuk:
1. Survival (mempertahankan hidup)
2. Love and belonging (cinta dan kepemilikan)
3. Power (kekuasaan dalam pengertian prestasi atau penghargaan diri)
4. Freedom (kebebasan), dan
5. Fun (kesenangan).

Perbuatan dan pemikiran akan perilaku pilihan  merupakan fokus konseling. Ketika kita mengubah pemikiran dan perbuatan, kita juga secara tidak langsung mempengaruhi bagaimana kita  sedang merasakan seperti halnya terhadap keadaan fisiologis kita. Teori Pilihan menjelaskan bagaimana kita mencoba untuk mengendalikan dunia sekitar kita dan mengajar kita cara untuk mencukupi keinginan dan kebutuhan kita secara lebih efektif.

Gagasan yang utama adalah perilaku merupakan usaha kita untuk mengendalikan persepsi kita tentang dunia eksternal sehingga mereka cocok bagi dunia internal dan pemuasan kebutuhan (need-satisfying) kita. Perilaku total meliputi empat hal yang tidak dapat dipisahkan, hanya beda dalam komponen:
1. Berbuat (acting)
2. Berpikir (thinking)
3. Merasakan (feeling), dan
4. Fisiologis yang menyertai semua tindakan kita.

Walaupun kita semua memiliki lima kebutuhan manusia yang sama, masing-masing dari kita memenuhinya dengan cara yang berbeda. Kita mengembangkan suatu "album gambaran mental" ("mental picture album") atau dunia kualitas (quality world) tentang keinginan di dalam diri, yang berisi gambaran yang tepat bagaimana cara terbaik kita untuk memenuhi kebutuhan.

Orang yang memiliki identitas sukses cenderung mengarahkan dirinya lebih baik, sedangkan yang memiliki identitas gagal kurang mampu mengarahkan dirinya. Suatu prinsip inti Konseling Realitas/Teori Pilihan adalah bahwa tak peduli bagaimana mengerikan keadaan itu, orang-orang selalu mempunyai suatu pilihan. Penekanan konseling realitas terletak pada asumsi akan tanggung jawab pribadi dan pada urusan terhadap kekinian.

Konseling Realitas menolak banyak hal dari tema konseling psychoanalytic, seperti model medis, fokus pada masa lalu, explorasi mimpi, berpijak pada perasaan atau pengertian yang mendalam (insight), pemindahan/transferensi, dan ketidaksadaran.

Tujuan Konseling Ralitas

Keseluruhan tujuan model ini adalah untuk membantu orang menemukan jalan lebih baik dalam memenuhi kebutuhan mereka untuk: survival, cinta dan kepemilikan, kekuasaan/prestasi, kebebasan, dan kesenangan. Pengubahan perilaku perlu menghasilkan kepuasan atas kebutuhan dasar ini. Tujuan lain di samping perubahan tingkah laku meliputi pertumbuhan pribadi, peningkatan, perbaikan lifestyle, dan pengambilan keputusan yang lebih baik.

Konselor membantu konseli memperoleh kekuatan psikologis untuk menerima tanggung jawab pribadi atas hidup mereka dan membantu mereka belajar berbagai cara untuk memperoleh kembali kendali hidup mereka dan untuk hidup lebih efektif. Konseli ditantang untuk menguji apa yang mereka lakukan, pikirkan, dan rasakan untuk mendapatkan gambaran jika ada suatu cara lebih baik bagi keberfungsian mereka. Konseli melakukan evaluasi diri yang eksplisit atas tiap komponen perilaku untuk menentukan dan memutuskan jika mereka ingin berubah.

Hubungan Konseling

Konselor memulai proses konseling dengan menjadi terlibat bersama konseli dan menciptakan hubungan yang hangat, yang mendukung, dan menantang. Konseli harus mengetahui bahwa konselor cukup mempedulikan untuk menerima mereka dan untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka dalam dunia nyata. Kedua-duanya, keterlibatan dan kepedulian untuk konseli, dipertunjukkan sepanjang proses.

Begitu keterlibatan ini telah dibentuk, konselor mulai mengkonfrontasi konseli dengan kenyataan dan konsekuensi tindakan mereka. Sepanjang konseling, konselor menghindari kritik, menolak untuk menerima pemaafan konseli dalam hal tidak menjalankan rencana yang telah disetujui, dan tidak memberikannya dengan mudah pada konseli. Sebagai gantinya, konselor secara terus menerus membantu konseli untuk mengevaluasi kepantasan dan efektivitas perilaku mereka.

Proses Konseling Realita

Praktik konseling Realitas dapat dikonseptualisasikan seperti siklus konseling, yang terdiri atas dua komponen utama: (1) lingkungan konseling dan (2) prosedur spesifik yang mendorong ke arah perubahan perilaku. Prosedur ini didasarkan pada asumsi manusia termotivasi untuk berubah: (1) ketika mereka menentukan bahwa perilaku kekinian mereka tidaklah menjadi sebagaimana apa yang mereka inginkan dan (2) ketika mereka percaya bahwa mereka mampu memilih perilaku lain yang akan semakin mendekatkan mereka kepada apa yang mereka inginkan. 

Prosedur yang spesifik dari praktik konseling realitas ini oleh Wubbolding diringkas dalam model "WDEP", yang mengacu pada serumpun strategi sebagaimana berikut:
W=  ingin: menyelidiki keinginan, kebutuhan, dan persepsi.
D =  arah dan perbuatan: memusatkan pada  apa yang konseli lakukan dan arah (tujuan perbuatan) yang membawa mereka pada permasalahan.
E =  evaluasi: menantang konseli untuk membuat suatu evaluasi tentang perilaku total mereka. Evaluasi mencakup segi: realistisitas, perilaku terarah, keuntungan, tindakan spesifik, persepsi, rencana tindakan, pertumbuhan profesional, kendali, interes dll.
P =  perencanaan dan komitmen: membantu konseli dalam merumuskan rencana realistis dan pembuatan suatu komitmen untuk menyelesaikannya. Rencana dikembangkan dengan prinsip SAMIC3: simple, attainable, measureable, immediate, consistent, client-centered, commited to.

Sebagai ringkasan prosedur lebih terperinci yang mendorong kearah perubahan,  Robert E. Wubbolding  melukiskan "Siklus Memenage, Menyupervisi, Mengkonseling dan Melatih." Dalam dua tulisannya: Using Reality Counseling, Harpa Collins,1988; Understanding Reality Counseling, Harpa Collins, 1991sebagai berikut:

Siklus terdiri atas dua konsep umum: Lingkungan yang kondusif untuk berubah dan prosedur yang lebih tegas/eksplisit yang dirancang untuk memudahkan perubahan. Tabel ini dimaksudkan untuk jadi suatu ringkasan yang padat. Model ini dirancang untuk digunakan pada karyawan, para siswa, konseli dan hubungan antarmanusia lainnya.

Hubungan antara Lingkungan dan Prosedur:
1. Seperti ditandai pada gambar, lingkungan adalah pondasi yang di atasnya penggunaan prosedur yang efektif didasarkan.
2. Meskipun pada umumnya diperlukan untuk menciptakan rasa aman, lingkungan hendaknya bersahabat: sebelum perubahan dapat terjadi, " Siklus" dapat dimulai pada titik manapun. Jadi, penggunaan siklus tidak terjadi dalam penunjukan langkah yang terkunci atau mati.
3. Membangun suatu hubungan menyiratkan pengembangan dan pemeliharaan suatu hubungan profesional. Metoda untuk memenuhi ini meliputi beberapa usaha pada pihak konselor terkait dengan lingkungan dan prosedur.

LINGKUNGAN
Lakukan: Membangun Hubungan; Hubungan yang dekat dibangun di atas KEPERCAYAAN melalui keakraban, keteguhan dan kewajaran.

1.  Menggunakan perilaku menghadiri atau memperhatikan (attending): kontak mata, postur, ketrampilan mendengarkan yang efektif.
2.  AB= " Selalu Jadilah…” (Always Be…): konsisten, ramah dan tenang, meyakinkankan bahwa ada harapan bagi peningkatan (improvement), bergairah/antusias ( berpikir secara positif).
3.  Menahan diri dari menilai atau menghakimi: Memandang perilaku dari sudut pandang negatif  merendahkan, dalam hal ini perlu diingat bahwa penerimaan tidak selalu mudah.
4.  Lakukan yang tak diduga: Penggunaan teknik paradoks (paradoxical techniques) cocok dalam hal ini; demikian halnya reframing dan prescribing.
5.  Menggunakan humor: Bantu mereka memenuhi kebutuhan untuk senang dalam batasan-batasan layak.
6.  Tetapkan batasan-batasan: hubungan adalah profesional.
7.  Berbagi Diri: Self-disclosure dengan tidak melewati batas sangat menolong; menyesuaikan terhadap gaya pribadi yang dimiliki.
8.  Dengarkan untuk mengambil kiasan: Gunakan figur mereka atas ucapan, pikiran, dan lainnya.
9.   Mendengarkan Tema-tema: Dengarkan perilaku mana yang sudah membantu, pertimbangan nilai, dll.
10.   Meringkas dan Fokus: Satukan apa yang mereka katakan dengan memusatkan pada mereka daripada atas " Dunia Nyata."
11.   Ijinkan atau Memaksakan Konsekuensi: Layaknya mereka bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri.
12.  Mengijinkan atau memberi kesempatan diam: Ini mengijinkan mereka untuk berpikir, seperti halnya untuk mengambil tanggung jawab.
13. Menunjukkan empati: merasakan seperti halnya orang yang dibantu itu. 
14.  Etis: Pelajari Kode Etik dan kemudian mengaplikasikannya, seperti dalam hal, bagaimana cara menangani ancaman bunuh diri atau kecenderungan kejam. 
15.  Ciptakan antisipasi dan mengkomunikasikan harapan. Konseli harus diajar bahwa sesuatu  akan menjadi baik jika mereka mau bekerja
16. Praktek manajemen memimpin, seperti: demokratis dalam menentukan aturan.
17. Diskusikan kualitas. 
18. Tingkatkan aneka pilihan.

Jangan Dilakukan 
Membantah, mengelola model boss, menyalahkan, mengritik atau memaksa, merendahkan, mendorong atau memberi peluang pemaafan (excuses), menakut-nakuti, atau meremehkan.
Melainkan, menekankan pada apa yang  dapat mereka kendalikan, menerima mereka sebagaimana adanya, dan memelihara kepercayaan bahwa mereka dapat mengembangkan perilaku yang lebih efektif. Lanjutkan penggunaan sistem "WDEP" tanpa mengurangi.

Tindak lanjut, Konsultasi, dan Pendidikan lanjut:
Menentukan suatu cara untuk mereka melaporkan hasail, berbicara dengan profesional lain ketika perlu, dan memelihara program yang berkelanjutan atas pertumbuhan profesional.

PROSEDUR
Membangun Hubungan: WDEP
1.  Menyelidiki kekurangan/keinginan, kebutuhan dan persepsi: Diskusikan gambaran album mental atau dunia kualitasnya, yaitu: dalam hal merancang tujuan, gambaran terpenuhi dan tak terpenuhi, kebutuhan, sudut pandang dan " lokus kendali."
2.  Berbagi keinginan dan persepsi: Ceritakan apa yang Anda inginkan dari  mereka dan  bagaimana Anda memandang situasi mereka, perilaku, keinginan, dan lain lain. Prosedur ini sifatnya sekunder dibanding A di atas.
3.  Dapatkan suatu komitmen: Membantu mereka mengerahkan niat dan keinginan mereka untuk menemukan perilaku yang lebih efektif.

Menyelidiki Perilaku Total 
Membantu mereka menguji arah hidup mereka, seperti pokok-pokok bagaimana mereka menggunakan waktu mereka. Mendiskusikan bisik diri (self-talk) yang tidak efektif dan efektif.

Evaluasi Landasan Prosedur:
Membantu mereka mengevaluasi arah tingkah laku mereka, perilaku spesifik seperti keinginan, persepsi dan komitmen. Evaluasi perilaku yang dimiliki kemudian menindaklanjutinya, konsultasi dan pendidikan lanjut.

MembuatRencana: Membantu mereka mengubah arah hidup mereka.
Rencana efektif adalah sederhana, dapat dicapai, terukur, segera, konsisten, dikendalikan oleh perencana, dan mengikat (tercatat). Penolong persisten/geming, Adapun rencana bisa linier ataupun paradoks.

Catatan: " Siklus" menguraikan petunjuk spesifik dan keterampilan. Implementasi efektif memerlukan pengintegrasian yang cerdik dan petunjuk  keterampilan yang dikaitkan pada lingkungan dan prosedur secara spontan dan tingkah laku sebenarnya dari kepribadian konselor. Ini memerlukan pelatihan, praktik dan supervisi. Kata "konseli" digunakan untuk seseorang yang menerima bantuan: siswa, karyawan, anggota keluarga, dll.

Pengertian Konseling Realita, Konsep Dasar dan Prosesnya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Tera Byte

0 comments:

Posting Komentar